Para raja dan sultan nusantara menilai perhatian pemerintah terhadap
sejarah dan adat istiadat belum optimal. Karena ada unsur adat istiadat
seperti keberadaan penerus para raja dan sultan yang ada Indonesia yang
belum terakomodasi dalam sistem pemerintahan.
Hal itu terungkap dalam acara Saresehan Sejarah Kerajaan dan Kesultanan Nusantara 2012 di Gedung Merdeka, Minggu (9/12).
"Pendapat yang berkembang selama acara berlangsung, pemerintah belum
optimal. Maka kami akan dorong semua masukan yang ada untuk dibahas
dalam Musyawarah Agung di Bali mendatang," kata Pangeran R Satria
Wangsa, dari Kerajaan Pejanggi Lombok yang kebetulan sebagai Ketua
Panitia Musyawarah Agung saat ditemui wartawan sesuai penutupan
Saresehan Sejarah Kerajaan dan Kesultanan Nusantara 2012 di Gedung
Merdeka, Minggu (9/12).
Menurutnya sekarang ini pemerintah sudah menunjukan adanya perkembangan
positif dalam memperhatikan persoalan adat tersebut. Seperti adanya
beberapa regulasi yang mengatur soal peniggalan-peninggalan sejarah,
namun semua itu belum cukup. Karenanya para raja dan sultan senusantara
juga akan mendorong adanya perubahan ketatanegaraan.
Dalam acara pramusyawarah agung yang dihadiri sekitar 90-an keturunan
raja dansultan senusantara itu muncul banyak pendapat yang menyebutkan
perlu adanya perubahan sistem ketatanegaraan.
Seperti yang dikatakan Sultan Abdurrahman Thaha Syaifuddin dari Kerajaan
Melayu Jambi (Pelestarian), bahwa seharusnya dalam pemilihan kepala
pemerintahan mulai dari pusat hingga daerah itu memberi ruang kewenangan
kepada para raja dan sultan.
"Seperti untuk pemilihan presiden boleh langsung dipilih oleh semua
masyarakat dengan calon yang diajukan oleh partai. Tapi untuk wakilnya
akan lebih baik dipilih oleh para raja dan sultan. Begitu juga untuk
gubernur dan wakil gubernur dan seterusnya. Ada pemberian ruang dalam
pemilihan pemimpin," kata Sultan Abdurrahman yang saat itu mengenakan
pakaian adat kesultanannya yang berwarna kuning.
Pendapat senada juga dikatakan Pangeran Norman Ajinegoro dari Keraton
Surakarta, bahwa kerajaan dan keraton merupakan cikal bakal suatu negara
demikian pula halnya dengan Pancasila sebagai pondasi negara semua
berakar dari kerajaan. Namun kini keberadaan dan eksistensi kerajaan
kurang mendapat perhatian dari negara. Negara sudah lupa akan
keberaadaan kerajaan.
"Kami bukan minta dihidupkan kembali sistem kerajaan atau monarki, tapi berharap ada pengakuan," ujarnya.
Begitu pula dengan pendapat yang dilontarkan Ida Tjokorde Ngurah Jambe
Pamecutan SH dari Bali selaku Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara
(FSKN). Menurutnya raja dan sultan di negeri ini dulunya adalah pemegang
saham, namun keberadaannya sekarang ini tidak begitu diperhatikan.
"Karenanya saya berharap dengan adanya pertemuan sekarang ini yang akan
dilanjutkan pada Musyawarah Agung di Bali bisa melahirkan tujuan-tujuan
dan sikap politis terhadap pemerintah. Ajang pertemuan ini juga untuk
nanti di Bali jangan hanya untuk kumpul- kumpul saja," katanya.
Sebelumnya para raja dan sultan senusantara itu melakukan saresehan
bertema "Melalui Sejarah Kita Bangun Masa Depan yang Gemilang"yang
menghadirkan beberapa pebicara seperti Prof Dr Moh Surya selaku DPD
perwakilan Jabar), Prof Dr Nina Herlina Lubis selaku Guru Besaar FIB
Unpad, Acil Bimbo, dan Ray Sahetapy. Selain itu hadir pula Laksmana
Purnawirawan Slamet Subiyanto, mantan Kasal yang memaparkan tentang
pudarnya Pancasila di era demokrasi ini

0 comments:
Posting Komentar